Tel: (021) 75791272/73,75 Email: sekr-ptik@bppt.go.id

Perlunya memahami Error verifikasi tipe-II seandainya KTP-el Reader dipakai di Pilkada

Pilkada tak lama lagi digelar. Hampir setiap hari, di sosial media diberitakan banyaknya KTP-el palsu yang beredar maupun yang dikirimkan ke Indonesia dari manca negara. KTP-el ini dikhawatirkan akan dipakai untuk memberikan suara secara ilegal di Pilkada, pada rentang waktu pk.12.00-13.00, karena pada waktu tersebut dibuka kesempatan bagi penduduk yang tidak terdaftar di DPT untuk memberikan suara, dengan menunjukkan KTP-el. Di sini peluang pemanfaatan KTP-el yang secara fisik mungkin tidak dapat dibedakan, mana yang asli dan mana yang palsu.

Salah satu solusi yang belakangan banyak dibahas adalah pemanfaatan KTP-el reader. KTP-el reader memiliki dua kemampuan. Pertama mampu memastikan apakah kartu yang disodorkan asli atau tidak, lewat proses mutual authentication antara chip dalam KTP-el dengan perangkat pembaca KTP-el. Kedua, seandainya kartu tersebut KTP-el asli, KTP-el reader mampu memastikan apakah kartu itu dibawa penduduk yang tercantum identitasnya di kartu, atau orang lain. Hal ini dilakukan dengan pencocokan sidik jari penduduk dengan data sidik jari yang terekam di dalam chip KTP-el.

Hal yang perlu dipahami adalah otentikasi biometrik seperti proses verifikasi sidik jari merupakan statistical process. Sekecil apapun selalu ada  peluang untuk gagal verifikasi [1]. Hal ini dikarenakan sidik jari memiliki sifat intra-variability. Seribu kali dipindai, akan  menghasilkan seribu kali citra pemindaian yang bervariasi. Jika  variasi pola sidik jari saat dipindai oleh KTP-el reader cukup besar dengan pola yang terekam dalam cip, akan menghasilkan NON-MATCH. Keputusan non-match yang dikeluarkan saat penduduk memadankan jarinya sendiri dengan datanya sendiri yang terekam dalam chip disebut dengan False Non Match, atau False Reject. Dalam statistika disebut dengan Error tipe II.

BPPT selama ini telah memberikan layanan teknologi pengujian  KTP-el reader dari sisi smart card maupun piranti lunak biometrik dari KTP-el reader yang diproduksi industri. Khusus untuk biometrik, pengujian dilakukan dengan memakai data biometrik KTP-el penduduk 3000 records yang direkam dalam program KTP-el, dan memastikan  kinerjanya harus memenuhi Peraturan Menteri Dalam Negeri No.34 tahun 2014. Error type I dan type II pada komponen biometrik toleransinya sangat kecil, dan didefinisikan pada lampiran peraturan menteri  sebagai berikut : False Rejection Rate maksimal 3%, saat False Acceptance Rate 0.01%.

Ketika seorang penduduk yang membawa KTP-el valid ingin memberikan suaranya secara sah pada pk.12.00-13.00 [2], kemungkinan pemadanan sidik jarinya gagal  sekecil apapun selalu ada . Hal ini perlu dipahami oleh petugas di lapangan, bahwa kegagalan pemadanan sidik jari tidak selalu dikarenakan upaya pemakaian KTP-el yang tidak sah, tapi kegagalan bisa juga diakibatkan karakteristik pemadanan biometrics yang peluang error-nya tidak bisa nol. Jangan sampai penduduk yang gagal pemadanan dengan Error type II ini dicurigai sebagai orang yang ingin memberikan  suara secara ilegal, apalagi dihakimi massa.

Petugas di lapangan perlu memahami perilaku Perangkat Pembaca KTP-el dan memahami berbagai sebab terjadinya kegagalan otentikasi. Diagram Fish-Bone terlampir diharapkan memberikan ilustrasi yang jelas untuk memahami karakteristik tersebut. Tindakan kriminal seperti pemakaian KTP-el yang tidak sah pada diagram di bawah disebut sebagai “Kartu bukan KTP-el”. Misalnya dengan memakai kartu palsu yang sepintas secara fisik blangko-nya mirip KTP-el. Upaya pemalsuan identitas ini akan terhadang saat diotentikasi memakai KTP-el reader. Tetapi hal ini hanyalah satu di antara berbagai peluang yang terjadi ketika KTP-el reader gagal melakukan otentikasi. Jangan sampai kegagalan otentikasi akibat faktor lain, kemudian dianggap sebagai upaya kriminal memalsukan identitas.

diagram

Fish-bone diagram (cause-and-effect diagram) berbagai penyebab kegagalan otentikasi penduduk memakai KTP-el Reader

Sebagai penutup, perlu dipahami bahwa teknologi hanyalah salah satu faktor saja dari keberhasilan suatu pilkada maupun program lain di masyarakat yang memanfaatkan teknologi. Selain faktor teknologi, masih ada faktor proses dan faktor manusia, yang sangat berperan dalam kesuksesan penerapan teknologi sebagai solusi suatu masalah. Pemakaian teknologi dalam pemilu seperti KTP-el reader, Intelligent Character Recognition [3] maupun solusi teknologi yang lain, perlu diiringi dengan persiapan yang baik, seperti penetapan SOP, pelatihan dan sosialisasi terhadap petugas di lapangan, agar solusi teknologi yang dipilih dapat dimanfaatkan dengan baik dan benar.

Referensi

  1. https://asnugroho.wordpress.com/2013/10/01/memahami-false-match-false-non-match/
  2. http://megapolitan.kompas.com/read/2017/02/06/15253821/bagaimana.cara.kpu.dki.memastikan.e-ktp.untuk.pilkada.dki.2017.asli.
  3. https://tipemilu2009.wordpress.com/2009/04/20/qajp/

Hubungi Kami

Gedung Teknologi 3, Lt. 3
Kawasan PUSPIPTEK Serpong, Tangerang 15314

Tel: (021) 75791272/73,75 Ext. 3120/3101

Fax: (021) 75791284

Web: ptik.bppt.go.id